Alhamdulillah, sepanjang hari ini kita menyaksikan semangat kepedulian kaum muslimin untuk berbagi dalam bentuk ritual : ibadah qurban begitu gempita. begitu juga apa yang saya rasakan. sangat tidak seperti biasanya, kenapa sebab? nyaris dominan, bahwa yang disembelih di tempat saya adalah sapi, meskipun kambing tetap saja ada. namun sepertinya kambing sudah kalah pamor dibanding sapi. sangat-sangat patut untuk di syukuri. namun bukan ini saja yang atut di syukuri. sekelebat hikmah dan setumpuk kesyahduan bisa kita hirup jika mampu mencerna sejarah kenabian perihal peribadatan qurban. mari simak bersama, sebuah coretan kecil saya di tengah kepenatan Idul Adha 1433 Hijriah….
Ibadah Qurban sejatinya adalah ‘uri-uri’ sejarah kerasulan Nabi Ibrahim. dimana ketika itu Nabi Ibrahim AS diperintahkan untuk menyembelih anaknya Nabi Ismail AS. menilik dari peristiwa ini, maka bisa kita pelajari kronologinya sekaligus kita ambil hikmah yang terkandung didalamnya ;
pertama, jangan terbiasa berbicara yang kita sendiri tidak yakin,
sebelum kelahiran Nabi Ismail, pernah suatu ketika Nabi Ibrahim A.S bergumam dalam pengaduan kepada Allah SWT. kurang lebih apa yang disampaikan adalah ‘ Aku (Nabi Ibrahim AS) sangat mencintaiMu ya Allah, tidak akan ada penghalang untuk menyembah kepada-Mu, meski harus menyembelih anak sendiri’. ini terjadi ketika Nabi Ibrahim belum berkarunia anak . sangat wajar kan? tapi bagaimana jika anak sudah dalam buaian? ini yang terjadi. sampai berkali-kali Nabi Ibrahim menerima wahyu untuk melakukan penyembelihan. dan ujungnya kita tahu, penyembelihan tetap terjadi, hanya saja, prosesi penyembelihan yang awalnya dilakukan kepada manusia (Nabi Ismail AS) diganti oleh Allah dengan domba. hikmahnya adalah jika ada sesuatu yang belum ada dalam kendali kita, janganlah untuk memancing ‘takdir’ yang sebenarnya kita sendiri tidak yakin. kalaupun toh kita yakin, tidak sepantasnya kita membuat statemen yang sejatinya manusia normal, secara umum tidak pantas untuk melakukan.
kedua, Qurban untuk mendelegasikan peran
Prosesi Qurban tidak semata-mata ‘secara tiba-tiba’ langsung ada perintah penyembelihan. ada rentetan peristiwa kepada keluarga Nabi Ibrahim AS yang perlu kita jadikan ibrah. inti dari perjalanan itu adalah pendidikan aqidah. pendidikan itu mulai pencarian Tuhan oleh Nabi Ibrahim. dinamika biduk rumah tangga, sampai pada pendidikan Nabi Ibrahim kepada putranya Ismail (ketika masih bayi diserahkan kepada padang tandus yang saat ini disebut mekah sampai pada pembangunan kakbah). kita bisa belajar banyak bagaimana Nabi Ibrahim berperan sebagai Nabi dan sebagai seorang ayah dan suami. Bagaimana seorang Ibrahim selalu berdoa untuk keluarganya agar keturunannya selalu menjadi orang-orang yang mulia.
selain dua hal di atas, masih banyak hikmah yang bisa kita petik. hanya saja, 2 hal ini yang jarang disinggung. saya mengambilnya dari sisi pendidikan spiritual, dimana, rangkaian idul qurban tidak hanya sebatas ibadah sosial, kepedulian terhadap sesama, namun rentetan panjang sebuah pendidikan keluarga yang berdasarkan aqidah yang hanif. semoga lain kali saya tidak kehilangan ‘semangat’ untuk terus menulis, agar selalu saja menjadi inspirasi bagi Anda sekalian. terimakasih masih berkenan untuk berkunjung,disela-sela kepenatan anda menikmati sate daging qurban hari ini … catatan choe